
Assalamualaikum Warohmatuloh Wabarokatuh.
ustadz sigit yang dirahmati Allah SWT
Ayah saya sudah meninggal 2 tahun lalu karena sakit.
sebelumnya beliau sakit stroke selama 2 tahun tidak bisa shalat dan
puasa, kami sudah mencoba menuntunnya utk sholat tp beliau hanya mampu
sebentar saja. Kami selalu menjaga dan merawatnya , namun pada saat
akhir hayatnya kami sedang tertidur karena lelah , dan beliau meninggal
tidak ada yang menemani dan tidak ada yang menuntunnya menyebut asma
Allah. Saya sangat menyesal,
Apa yang dapat saya lakukan untuk menebus rasa penyesalan saya ini,
doa apa dan amalan apa yang dapat saya berikan untuk membantu ayah saya
selama di alam kubur hingga hari perhitungan nanti.
Karena saya merasa apa yg saya lakukanselama merawat beliau belum cukup untuk membalas jasa 2x beliau kepada saya.
Jazakumullah , Ustadz
Wassalamualaikum wrwb
Waalaikumussalam Wr Wb
Semoga Allah swt mengampuni segala dosa ayah anda, merahmatinya,
memaafkan kesalahan-kesalahannya, memuliakan kedudukannya, melapangkan
kuburnya dan memasukkannya bersama orang-orang shaleh di surga-Nya.
Berbakti kepada orang tua menempati posisi yang tinggi didalam islam.
Hal itu ditunjukkan dengan perintah berbuat baik kepadanya mengikuti
perintah beribadah hanya kepada Allah swt saja, seperti disebutkan
didalam firman-Nya.
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan
menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu
dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Isra : 23)
Berbuat baik kepada orang tua tidak hanya dilakukan ketika dia masih
hidup akan tetapi juga setelah dia meninggal dunia. Diriwayatkan oleh
Abu Daud dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As Sa’idi ia berkata, “Ketika
kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba
ada seorang laki-laki dari bani Salamah datang kepada beliau.
Laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada ruang untuk
aku berbuat baik kepada kedua orang tuaku setelah mereka meninggal?”
beliau menjawab: “Ya. Mendoakan dan memintakan ampunan untuk keduanya,
melaksanakan wasiatnya, menyambung jalinan silaturahim mereka dan
memuliakan teman mereka.” Meskipun hadits ini lemah namun dalam hal ini
bisa diamalkan.
Beberapa perbuatan baik yang bisa dilakukan terhadap orang tua yang telah meninggal dunia, diantaranya :
1. Mendoakan dan memohonkan ampunan baginya.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla
akan mengangkat derajat seorang hamba yang shalih di surga, hamba itu
kemudian berkata; ‘Wahai Rabb, dari mana semua ini? ‘ maka Allah
berfirman; ‘Dari istighfar anakmu.'”
Diantara bentuk-bentuk doa dan permohonan ampunan tersebut adalah :
ROBBIGH FIRLI WA LIWALIDAYYA
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ
Artinya : “Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku.” (QS. Nuh : 28)
ROBBIRHAMHUMA KAMAA ROBBAYANI SHOGHIRO
وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Artinya : “Dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya,
sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al Isra
: 24)
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari dari Jubair bin Nufair ia
mendengarnya berkata, saya mendengar Auf bin Malik berkata; Suatu ketika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatkan jenazah, dan saya
hafal do’a yang beliau ucapkan: “ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA ‘AAFIHI
WA’FU ‘ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI’ MUDKHALAHU WAGHSILHU BILMAA`I
WATS TSALJI WAL BARADI WA NAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA NAQQAITATS
TSAUBAL ABYADLA MINAD DANASI WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI WA
AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL
JANNATA WA A’IDZHU MIN ‘ADZAABIL QABRI AU MIN ‘ADZAABIN NAAR
(Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan
maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnyak,
bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia
dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih
dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih
baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga
yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik.
Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur
atau siksa api neraka).” Hingga saya berangan seandainya saya saja yang
menjadi mayit itu.
2. Melaksanakan wasiatnya selama wasiat tersebut tidak memerintahkan
kemaksiatan terhadap Allah swt dan tidak bertentangan dengan hukum
syariat, sebagaimana firman Allah swt :
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ
أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ
وَالأقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
Artinya : “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu
kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak,
Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini
adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqoroh :
180)
Imam Bukhori meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: “Mendengar dan taat adalah haq (kewajiban)
selama tidak diperintah berbuat maksiat. Apabila diperintah berbuat
maksiat maka tidak ada (kewajiban) untuk mendengar dan taat”.
3. Menghubungkan tali silaturahim orang tua anda yang telah meninggal serta berbuat baik kepada tema-teman dan kerabatnya.
Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kebajikan yang
utama ialah apabila seseorang melanjutkan hubungan (silaturrahim) dengan
keluarga sahabat baik ayahnya.”
Didalam hadits ini terdapat keutamaan menghubungkan silaturahim
kawan-kawan ayah yang telah meninggal, berbuat baik dan memuliakan
mereka.
4. Bersedekah atas namannya
Kaum muslimin telah bersepakat bahwa sedekah mengatasnamakan orang
yang sudah meninggal maka hal itu akan sampai kepadanya, sebagaimana
diriwayatkan oleh Bukhori dari ‘Aisyah bahwa ada seorang laki-laki
berkata, kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Ibuku meninggal dunia
dengan mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia
akan bersedekah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika aku bersedekah
untuknya (atas namanya)?”. Beliau menjawab: “Ya, benar”.
Walahu A’lam
Ustadz Sigit Pranowo Lc